Backpackeran di Thailand
Table of Contents
Akhirnya, aku punya kesempatan untuk mengunjungi sebuah negara yang terkenal dengan turismenya, Thailand. Yang awalnya cuma rencana backpacking solo biasa, berubah jadi petualangan penuh plot twist—nyaris tenggelam, kena scam, tersesat, tapi juga dapat pengalaman yang life-changing. 10 hari, 5.6 juta rupiah, dan satu cerita yang nggak akan pernah kulupakan.
Persiapan
Aku akan membuat trip ini menjadi trip backpacking, bukan karena aku tidak ingin membeli banyak barang sehingga memerlukan koper, melainkan karena budgetku pas-pasan. Jadi, aku akan mencoba untuk menghemat uang sebisa mungkin.
Sebelum flight, aku mengunjungi money changer langgananku di dekat rumah. Sewaktu konsultasi ke teman yang tinggal disana, “kalo bisa, bawa baht dalam pecahan kecil aja” katanya. Tapi, ternyata money changer tersebut hanya punya pecahan yang paling besar, yaitu seribuan (dengan kurs 1 THB = 510). Akhirnya, aku hanya 3000 baht ke Thailand. Ada hal yang surprising dalam hal ini, yuk lanjut membaca!
Untuk barang-barang yang dibawa, aku membawa 4 baju kaos, beberapa kaus kaki dan celana dalam, satu celana pendek dan satu celana panjang, payung, handuk portabel, dan lain-lain. Dan tentunya powerbank adalah kewajiban, aku tidak mau di tengah kota yang asing dengan baterai handphoneku yang sekarat. Selain itu, aku harus mengorbankan pakaian berat demi membawa laptop, karena aku masih ingin ngoding dan menulis selama perjalanan. Total berat barang yang kubawa ada di sekitar 6.8 kilogram, masih di bawah batas maksimal berat tas kabin.

Persiapan plan dan itinerary untuk perjalanan ini? Oh tentu, aku selalu membuatnya sangat minim. Solo backpackeran adalah kegiatan yang menurutku lebih baik untuk dibuat flexible, tidak perlu memusingkan “jam sekian kita harus kesini, besok pagi kita harus kesana” ahh moment ketika traveling bersama orang lain. Itineraryku sesimpel ini:

Ada banyak alasan lain kenapa solo traveling itu jauh lebih seru. Dalam artikel 50 Years of Travel Tips, ada dua tipe traveling: retreat dan engage. Retreat adalah bagaimana orang-orang mendeskripsikan “liburan” pada umumnya — relaksasi, melakukan hal yang fun, menjauhi diri dari rutinitas. Sementara itu, engage adalah ketika kita traveling untuk menemukan hal baru, mendapatkan pengalaman baru, petualangan yang tidak jelas arahnya kemana, dan menyatu dengan kultur lokal. Menurutku, retreat lebih seru dilakukan bareng-bareng, sementara engage lebih seru dilakukan solo.
Mencapai Bangkok
Mendarat di Bangkok pada pukul 6 sore, aku langsung membuka aplikasi Grab untuk memesan taksi ke hostel. Sedikit kaget, mobil yang datang adalah MG EV sedan, terlihat sangat mahal dan classy. Beruntung, aku dapat driver Grab yang skill bahasa inggrisnya jago. Ketika ia mengetahui bahwa aku orang Indonesia, yang baru pertama kali ke Thailand, ia langsung cerita banyak apa yang dia ketahui tentang Indonesia, dan tentunya aku banyak tanya mengenai Thailand ini, seperti apa makanan yang perlu dicoba, tempat yang perlu dikunjungi, dan lain-lain.

Setelah 15 menit perjalanan, akhirnya sampai juga di hostel pertama, Wayha Hostel. Resepsionisnya ramah, banget. Ini salah satu hostel terbaik dan termurah yang pernah aku kunjungi seumur hidup. Karena lantai dasar dari hotel tersebut adalah kafe, aku melihat beberapa orang bule yang sedang nongkrong disana, sibuk dengan masing-masing. Aku berasumsi bahwa mereka juga adalah solo backpacker.
Setelah check-in, aku mencoba jalan-jalan ke luar untuk merasakan suasana Bangkok. Sekitar 5 menit jalan, aku menemukan restoran trotoar yang buka tenda. Menu makanan terpampang besar di tembok, aku take picture, lalu menggunakan Google Translate untuk menerjemahkan menggunakan gambar. Penjualnya ibu-ibu, aku rasa ia tidak mengerti bahasa inggris. Jadi, yang aku lakukan adalah menunjuk salah satu menu, yang ternyata adalah Chicken Pad Kaphrao ผัดกะเพรา (yang akan menjadi favoritku sepanjang perjalanan ini), yaitu nasi dengan ayam daging cincang dengan rasa yang gurih beraroma wangi basil. Harganya juga murah, hanya 29 baht (15 ribu rupiah).

Di seberangnya, ada 7 Eleven yang buka 24 jam. Setiap mengunjungi negara manapun, aku selalu mampir ke minimarket, salah satu cara untuk merasakan cultural exchange – “oh ternyata di negara ini juga ada ini loh” dan sejenisnya. Satu botol air kemasan 600ml seharga 6 sampai 7 baht – sama seperti di Indonesia. Aku mengambil satu botol lalu pergi ke kasir, seorang wanita muda yang terlihat ramah itu mulai mengatakan bahasa thailand random yang aku sama sekali nggak ngerti. “…. khaaap?” ucap kasirnya dengan nada khas bahasa Thailand, setidaknya hanya itulah yang kutangkap dari ocehan panjang wanita itu. Dia seperti menawarkan sesuatu, jadi aku hanya menggelengkan kepala, lalu memberikan uang lembaran 20 baht.
Kembali ke hostel dengan perut terisi penuh, aku kembali ke kamarku yang berisi 6 bunk bed, hanya satu kasur yang tidak terisi. Suasana kamar tersebut gelap dan sunyi, mengingat saat itu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku harus naik ke kasurku yang berada di bagian atas tanpa mengeluarkan suara. Untungnya, masing-masing kasur disediakan colokan, lampu, dan tirai sehingga privasi terjaga.

Hari berganti; hostel murah ini juga memberikan sarapan gratis. Banyak pilihan yang disediakan di dapurnya — roti, sop ayam, cemilan, kopi dan teh. Sambil menyuap, aku membuka laptop – membereskan kerjaan yang harus dilakukan sampai waktunya check out. Pukul 10 pagi aku check-out, tapi belum ada plan mau pergi kemana, sampai pada satu titik dimana aku teringat kata-kata driver Grab kemarin: “you should try to go to the center”. Di mana “center” itu? Di Google Maps, aku berasumsi bahwa pusat kota Bangkok adalah tempat dimana banyak mall, street food, padat, dan banyak turis. Sampai akhirnya, aku memilih satu nama yang paling sering bersinar di layar: Siam.
Google Maps menunjukkan cara pergi ke Siam adalah menggunakan SRT dan MRT. I had no idea how to ride SRT or MRT. Inilah serunya dari traveling engage, explore dan dapatkan pengalaman mencari tahu hal baru lebih menantang. Maps menyuruhku untuk berjalan kaki selama 15 menit ke stasiun LRT terdekat, Stasiun Lak Si. Berjalan kaki 15 menit itu memang sudah biasa, tapi kalau jalan kakinya sambil membawa tas seberat beton yang menggelembung ini lumayan menjadi tantangan. Awal-awal backpacking seperti ini memang berat di punggung, tapi lama-lama menjadi terbiasa juga kok.
Stasiun Lak Si terlihat sangat luas di dalamnya, kosong, hanya ada aku dan petugas yang berjaga di konter tiket. Konter tiket itu ada di dekat gerbang tap otomatis. Menghampiri konter tiket yang sedang dijaga oleh seorang perempuan yang bertugas – seperti biasa, selalu dianggap orang Thailand sehingga petugas tersebut mulai menanyakan menggunakan bahasa Thailand. “How to go to Siam?” ucapku dengan nada bingung. Petugas itu langsung reflek mengubah bahasanya menjadi bahasa inggris. Ia menyebutkan aku harus transit di Bang Sue terlebih dahulu dan untuk pergi ke Bang Sue harganya 20 baht. Baiklah, aku memberikan uang 20 baht dan petugas itu memberikan ku semacam koin hitam!? Apa yang harus kulakukan dengan koin ini? Tebakan terbaikku adalah koin ini digunakan untuk tap-in layaknya kartu di gerbang putar ini, dan ternyata tebakanku benar.

Kereta berada di atas, aku perlu naik tangga untuk menemui rel kereta SRT ini. Disana terlihat hanya ada dua sampai lima orang yang menunggu keretanya datang. Sangat sepi, aku pikir mungkin karena siang bolong ini bukan peak hour dimana anak-anak pulang sekolah dan yang dewasa pulang kerja.

Di tengah perjalanan, aku menemukan ibu-ibu yang menjual makanan di gerobaknya yang menurutku menarik – adonan tepung, pisang, dan telur – aku yakin ini halal. Kepalan adonan tepung dipegang oleh ibu itu, lalu dikepak-kepakkan sehingga menjadi besar, persis seperti orang yang membuat martabak di Indonesia. Adonan itu digoreng, lalu dimasukkan potongan pisang dan telur sampai garing. Aku memesan satu, di gerobaknya tertulis nama makanannya dan harganya tertulis 25 baht. Aku tidak tahu nama makanannya bahkan setelah menggunakan Google Translate. Tapi yang pasti, makanan ini terlihat sangat enak.

Susu kental manis disiram di atasnya. Pada gigitan pertama, telurnya terasa gurih, adonan yang garing dan pisang di dalamnya terasa lembut. Susu kental manis menambah dimensi manis yang pas, tidak berlebihan. Sempurna. Makanan ini menjadi penutup sebelum aku berangkat ke Krabi. Airport DMK tepat berada di seberang, aku menunggu jadwal terbang sambil ngemper di pinggir jalan. Plan ke Krabi adalah plan yang spontan kubuat H-2 pergi ke Bangkok. Alasannya? Berdasarkan review di Reddit, Krabi tidak overcrowded seperti Phuket, banyak masjid, banyak pulau dan pantai, banyak makanan enak!
Main di Krabi
Setelah terbang selama 2 jam kurang sedikit, akhirnya sampai juga di Krabi. Aku disambut oleh banyaknya orang lokal Krabi yang menawarkan taxi dan private van di dekat pintu keluar. Mereka semua memegang selembar brosur yang berisi harga yang harus dibayarkan untuk pergi ke suatu titik di Krabi. Hotelku berada di pinggir pantai Ao Nang, jika memakai taxi itu akan memakan uang ratusan ribu rupiah. Jadi, aku mencoba untuk mendekati salah satu “sales” taksi van untuk bertanya berapa harga ke Ao Nang — “150 baht, directly to your hotel” jawabnya. Aku dan satu cewe thai yang memasuki van duluan, lalu beberapa bule yang berada di flight yang sama denganku ikut masuk beberapa menit kemudian.
Keluar dari airport, vibe yang dapat kurasakan dari jalan raya sepanjang perjalanannya itu: tenang. Jalanan yang lowong dengan langit kuning yang memerah, sangat berbeda dengan Bangkok yang hectic dan sibuk.

Sebaliknya, ketika aku sampai di pantai Ao Nang dimana hotelku berada, jalanan di pinggir pantai itu penuh dengan turis. Banyak restoran dengan berbagai macam masakan—indian, western, italian, melayu—semuanya ada. Selama aku jalan di trotoar ini, semua turis tampaknya berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda. Tapi, bahasa yang paling banyak kudengar dari turis adalah bahasa melayu, bahasa prancis, dan bahasa russia. Aku tidak menemukan satupun orang Indonesia disana, kalaupun ada yang mirip, itu adalah orang Malaysia (ya, karena dari Malaysia ke Thailand itu dekat dan murah).

Di malam yang hidup dan berkilau lampu bermacam warna, bar-bar yang buka ramai dengan turis yang ingin menikmati malamnya dengan alkohol. Hostel yang aku singgahi ternyata menyatu dengan bar, menyetel musik kencang-kencang dan beberapa orang sedang bermain biliard. Suara keras musiknya masih masuk ke kamar hostel–yang satu kamar isinya delapan bunk bed–sehingga membuat tembok bergetar dan suaranya terdengar tapi sedikit mengendap. Tentu itu kekurangan dari hostel yang menyatu dengan bar, tapi aku tidak menyesal, mereka memberikan good service dengan murah! Sarapan juga diberikan secara gratis: roti, sereal, telur, bisa ambil secara unlimited.
Aku tidak punya plan apapun untuk keesokan harinya, kecuali shalat jumat. Surprisingly, di Krabi terletak banyak masjid dan yang terdekat dari pantai Ao Nang adalah Masjid Ao Nang. Dari pantai Ao Nang, memerlukan jalan kaki sekitar 15 menit untuk mencapai masjid yang letaknya agak ke tengah kota. Di bawah matahari yang terik, aku berjalan kaki sambil menikmati suasana Krabi, melihat kanan kiri, aku menyadari bahwa semakin dekat dengan masjid, semakin banyak restoran makanan halal, dan harga-harganya juga semakin murah.
Tandanya sudah dekat dengan masjid adalah banyaknya orang mengenakan sarung, baju koko, dan peci (ya, mereka punya kultur yang sama dengan Indonesia). Ketika azan dikumandangkan, masjid itu mulai penuh, lalu khotib naik memasuki mimbar. Ketika khotib mulai berbicara, aku tidak mengerti sama sekali apapun yang dia katakan dalam bahasa Thai, tapi sangat familiar dengan bahasa arabnya yang selalu diucapkan di sholat jumat manapun. Sholat jumat memang adalah salah satu cara terbaik untuk merasakan kultur di negara lain yang membuatku merasa negara itu seakan rumah sendiri.

Jam 1 siang adalah waktunya makan siang, aku yakin orang-orang yang sholat jumat disini juga lapar. Selesai sholat jumat, aku mengikuti gerombolan orang yang keluar dari masjid untuk melihat dimana mereka akan mencari makan siang. Sebagian dari mereka pulang ke rumahnya, dan sebagiannya lagi masih berjalan ke arah yang aku tak tau ujungnya. Akhirnya, aku melihat sebuah warung makan sejenis warteg yang penjualnya adalah ibu-ibu berhijab. Aku menghampirinya, melihat banyak menu di display kaca yang mulai habis itu aku merasa kurang familiar. Semua makanannya terlihat sangat kaya dengan rempah-rempah, membuatku bingung mau pilih apa untuk dimakan. Di samping display kaca itu, ada satu baskom besar berisi nasi biryani (atau nasi kebuli) dengan ayam yang ukuran potongan yang cukup besar. “How much is this?” tanyaku sambil memberikan hint bahwa aku bukan orang Thai. Ternyata cukup murah, harganya 50 baht (25 ribu rupiah), lebih murah dibanding nasi kebuli di condet yang satu porsinya bisa mencapai 75 ribu.
Hari kedua di Krabi ini memang tidak ada rencana spesial apapun, jadi aku mencoba untuk hidup sebagaimana orang lokal. Main ke masjid, makan murah, mencoba bersosialisasi dengan orang lokal, dan workout di gym.
Four Islands
Kadang rencana terbaik adalah yang tidak direncanakan sama sekali. Four Islands tour ini muncul begitu saja ketika aku sedang berkelana di sepanjang trotoar Ao Nang yang ramai. Di sana, berjajar kios-kios “Tourist Information” yang seolah tumbuh seperti jamur setelah hujan-—tiap sepuluh langkah, pasti ada satu. Mereka berdiri dengan brosur-brosur berwarna-warni yang berkibar tertiup angin laut.
Di salah satu kios yang tampak paling hidup, seorang perempuan paruh baya dengan hijab yang rapi sedang menata brosur-brosurnya. Matanya berbinar ramah, senyumnya tulus tanpa dibuat-buat. “Sawadikhap,” sapanya dengan nada hangat yang langsung bikin aku merasa welcome. Aku mendekatinya dengan langkah ragu-ragu, masih mencoba menyusun kalimat dalam bahasa Inggris yang tidak terlalu norak. “Is there a snorkeling activity I can do tomorrow?” tanyaku, berusaha terdengar natural—-biar nggak keliatan kayak turis kampungan yang baru pertama kali keluar negeri.
Tangannya bergerak lincah mengambil beberapa brosur snorkeling, lalu meletakkannya di hadapanku. Harga-harganya bervariasi: speed boat 2000 baht, kapal reguler 1400 baht. Di sinilah permainan dimulai. Aku memasang ekspresi yang aku pelajari dari para pedagang di pasar: alis berkerut, bibir sedikit mengerucut, mata yang menatap brosur seolah sedang memecahkan kode rahasia dunia, terlihat ragu dan nggak terburu-buru. Dan seperti sulap, tanpa aku minta, angka di kertas itu mulai turun. Negosiasi berlanjut sampai akhirnya kami berjabat tangan di angka 900 baht. Tour akan dimulai esok hari pukul delapan pagi, dijemput oleh bus di tempatku menginap.
Pukul delapan pagi aku duduk di bangku trotoar yang kosong, menunggu bus yang akan menjemputku, sambil menikmati udara segar yang dibumbui aroma laut. Banyak bus dan angkutan tour privat yang lalu lalang di jalanan, membuatku bingung yang mana yang akan menjemputku? Setelah kutanya ke ibu tourist information itu, akan ada semacam truk angkutan yang bertuliskan “Krabi Sunset” yang akan berhenti di depan hostelku. Setelah 30 menit menunggu, akhirnya truk tersebut datang.
Di kapal kecil yang kami tumpangi, ada sekitar 15 sampai 20 orang yang duduk bersamaku, berasal dari berbagai negara. Ada yang dari India, Prancis, Malaysia, Amerika, dan Finlandia. Mereka semua mengikuti tour ini dengan temannya, kecuali aku dan orang Finlandia itu sebagai solo traveler.

Pemandangan dari kapal, melihat lautnya biru yang diisi oleh pulau-pulau kecil tak berpenghuni. Aku, seorang software engineer yang jarang menyentuh rumput, sekarang bahkan bisa menyentuh laut. Kapal yang kutumpangi memang sedikit lebih lambat dari kapal yang lain, tapi inilah momen untuk menikmati indahnya laut dengan ombak yang sedikit berguncang. Kapal yang sedikit bergoyang selama perjalanan ini tidak membuatku mabuk, semuanya tampak menikmati perjalanan ini.
Pulau pertama yang disinggahi adalah Phra Nang Cave Beach. Ketika turun dari kapal, ibu tour guide itu mengatakan “forty-five minutes we go back here” dan memperingatkan kalau tidak tepat waktu, akan ditinggal dan harus mengambil taxi boat untuk kembali. Pulau ini cukup padat oleh serbuan turis, kurasa ini wajar karena hari sabtu adalah hari libur.
Pulau kedua dan ketiga adalah Chicken Island dan Tup Island. Sebelum mencapai pulau, kapal berhenti sekitar 15 sampai 20 menit untuk memberikan kami kesempatan snorkeling. Kami semua sudah siap tempur dengan memegang snorkel (alat napas dan kacamata) masing-masing.
Sebagian orang mengenakan life vest, sebagian lagi tidak. Sebagai orang yang pertama kali mencoba snorkeling, mencoba nyebur menggunakan life vest adalah wajib untuk tes ombak. Dan ya, aku bisa mengambang dengan mudah, tapi rasanya kurang menantang? Seperti main game dengan cheat mode on. “Is it better to swim without vest?” tanyaku kepada orang Finlandia yang sedang bersiap nyebur dari kapal. “Yeah it’s better without vest, it’s very restricting and limiting my movement” jawabnya.
Aku melepas vestku, dengan pedenya menantang diriku untuk berenang di laut tanpa bantuan untuk mengambang—mengingat diriku rajin berenang setiap hari minggu pagi di kampung halaman. Dengan snorkel yang terpasang di wajahku, aku perlahan turun dari tangga kapal dan masuk ke air laut, sambil memegang tangga dengan satu tangan untuk memastikan aku bisa mengambang. Perlahan-lahan aku berenang menjauh dari kapal, masih merasa aman.
Karena merasa terlalu jauh dari kapal, random thought yang tak diundang muncul di kepalaku: “Shit, bagaimana caranya aku berenang kembali ke kapal?” Tiba-tiba rasa panik muncul, pola nafasku menjadi tersengal-sengal, pipa snorkelku sedikit lepas, membuatku meminum air laut yang asin itu. Aku lupa bahwa aku sedang berenang di laut, bukan di kolam renang Tirta Mas yang dalamnya cuma 1.5 meter. Aku melihat ada life vest dengan tali yang terhubung ke kapal sejak awal. Aku harus meraihnya secepatnya. Pergerakan tangan dan kakiku terlalu brutal melawan air, sehingga membuat energiku terkuras cepat. Aku merasa tenggelam, air asin terus masuk ke mulut, aku tetap berusaha sampai akhirnya aku berhasil meraih vest mengambang berwarna oren itu.

Huh.. akhirnya, aku bisa menenangkan diri dengan siku bertumpu pada life vest. Napas tersengal, jantung berdegup seperti orang yang habis sprint 400 meter. “You good bro?” sahut orang kapal yang sedang berenang dengan santainya tanpa vest. Tanganku memberikan sinyal jempol ke atas, memberi tahu bahwa aku baik-baik saja. Aku lupa bahwa kunci berenang di laut adalah–tenang. Setelah nafasku terkendali, aku mencoba berenang lagi, melakukan teknik sculling yang kudapat dari YouTube Shorts random agar bisa mengambang lebih baik. Siapa sangka, video 15 detik itu dapat menyelamatkanku sekarang. Akhirnya, aku bisa berenang dengan baik sampai waktunya kembali ke kapal. Ini menjadi pengalaman berharga berenang di laut. Dan tentunya snorkeling akan selalu jadi kegiatan yang kulakukan ketika pergi ke laut.
Kapal menyalakan mesinnya lalu bergegas ke pulau Chicken Island dan Tup Island. Tidak banyak yang bisa dilakukan di pulau ini, kecuali foto-foto dan berenang kecil. Pantai dan pasir menghubungkan dua pulau itu menjadi satu.

Lanjut ke pulau terakhir, Ko Poda Island, pulau dimana kami akan mendapatkan makan siang. Pulau ini lebih besar dibanding pulau-pulau sebelumnya. Makan siang yang kudapatkan adalah nasi, ayam, dan sayuran macam capcay — tampaknya tour guidenya mengambil langkah aman dengan hanya menyediakan makanan halal. Turis yang ada di kapalku makan bersama kawan atau keluarganya masing-masing, sementara aku tidak ada teman untuk berbincang ketika makan. “Do you want to eat there?” tanyaku kepada orang Finlandia sambil menunjuk ke arah meja yang kosong, menunjukkan bahwa aku ingin duduk bersamanya. Salah satu planku dalam trip ini adalah mendapatkan teman baru, dan ini adalah kesempatannya. Akhirnya, inilah saatnya menggunakan skill bersosialisasi yang kudapatkan dari buku How to Win Friends and Influence People.
Banyak hal yang kubahas dengannya, seperti kondisi negaranya, pengalaman traveling, sampai akhirnya kami bertukar akun Instagram. Setelah makan, karena kami berdua juga tidak tau apa yang ingin dilakukan, kami keliling pulau tanpa tujuan. Tampaknya, ia tipe traveler yang sama sepertiku—tidak maniak foto dan menikmati suasana dengan maksimal. Pantainya sangat ramai, tapi kami berdua menemukan jalan rahasia yang tidak ada orang melewatinya. Tour guide kami mengumumkan bahwa kami punya waktu satu jam lebih di pulau ini, dan sekarang kami masih punya sisa sekitar 40 menit untuk menyusuri jalan kosong ini.


Petualangan terbaik adalah yang tidak ada di Google Maps. Semakin dalam menyusuri jalan ini, kami menemukan beberapa rumah-rumah yang tampaknya kosong yang mempunyai kuil di sampingnya. We have no idea kemana jalan ini akan membawaku, tapi yang pasti, maksimal kami jalan adalah 20 menit, sehingga tidak akan melewati batas waktu untuk jalan balik ke kapal. Siapa sangka, dalam waktu 10 menit jalan, kami menemukan secret beach yang sama sekali tidak ada orang satupun disini. Berjalan di atas pasir yang panas dipanggang matahari, kami menikmati tenangnya arus ombak yang menyisir laut sampai waktunya habis.
Kami kembali ke kapal ketika sudah waktunya. Tour telah selesai, kegiatan selanjutnya adalah pulang ke hotel masing-masing. Tour guidenya menghitung ulang jumlah penumpang seperti guru TK yang memastikan tidak ada muridnya yang tertinggal di playground. Kapal mengarah kembali ke Krabi, lalu kami diantarkan menggunakan bus ke hotel. Waktunya beristirahat dengan jalan kaki keliling Krabi sekaligus makan malam. Bus ke Bangkok akan menjemputku esok hari, jadi aku memaksimalkan pengalaman di Krabi hari ini.
Krabi -> Pattaya
Dari Krabi, next destinationnya adalah Pattaya, sebuah kota di Thailand yang terkenal akan nightlifenya. Untuk pergi ke Pattaya, aku sudah membuat plan untuk menggunakan bus sepenuhnya. Aku dijemput dari Krabi oleh van pada pukul 15 sore. Di dalam van tersebut hanya berisi tiga orang: sepasang kapel orang prancis dan aku. Sedikit membingungkan, seingatku kata tour guidenya, aku akan ke Bangkok menggunakan bus berisi puluhan orang, tetapi kenapa dijemputnya dengan van berisi tiga orang? Ingin bertanya kepada drivernya pun ia tak bisa Bahasa inggris.
Setiba di Surat Thani (sekitar 1.5 jam dari Krabi), van yang aku naiki ini berhenti. Aku kira ini memang hanya sebentar untuk turun ke rest area, tapi nyatanya? Kami semua disuruh turun, orang prancis yang duduk di belakang sedang mengambil koper-kopernya. Ketika aku ikut turun, ada satu mba-mba Thailand yang bilang, “next bus 7 pm” katanya dengan aksen thainya yang kental. Aku tidak tau apa yang dia katakan sepenuhnya, tapi setidaknya aku mendengar kata “7pm”.
Aku menunggu sambil memakan nasi goreng ayam yang dijual disana. Harganya sedikit overpriced, sekitar 100 baht, tapi tak ada pilihan lain. Aku punya teori yang kurasa ini fakta, mereka semua selalu menganggap aku adalah seorang Thai, tetapi ketika aku mulai terlihat bingung dan membalasnya dengan “sorry?”, situasi langsung menjadi agak awkward dan ia langsung paham bahwa aku bukan orang Thailand. Satu lagi, aku rasa mereka memberikan “harga turis” jika pelanggannya tidak bisa bahasa Thai seperti aku.
Ketika sudah jam 7 malam, sedikit surprised bus yang datang adalah bus dua tingkat, sleeper bus! Lantai satu bus hanya ada toilet, sementara kursi penumpang ada di lantai dua. Kursinya juga nyaman banget, juga tersedia selimut untuk tidur. Zero complaint, aku bisa tidur dengan nyenyak di bus ini.
Setibanya di Bangkok, kami semua diturunkan di tengah jalan (Khok Wua Intersection), waktu di jam tanganku menunjukkan pukul 5 pagi, langit masih gelap dan sepi, padahal ekspektasiku akan diturunkan di sebuah bus terminal. Reflek membuka aplikasi Grab, memesan Grab Bike ke Ekkamai Bus Terminal untuk pergi ke Pattaya. Sesampainya di bus terminal, terlihat banyak sekali konter yang terpampang tulisan “PATTAYA” dengan jelas. Di salah satu konter tersebut tertulis daftar harga untuk pergi ke Pattaya: 150 baht untuk ke Walking Street, 180 baht untuk ke Jomtien.

Wanita penjaga konter itu — memulai bertanya kepadaku menggunakan bahasa Thai — aku rasa ia seperti bertanya “mau kemana?” kepadaku. Jadi, langsung saja kuberikan clue ke penjaga konter “Jomtien, Jomtien!”, lalu “one eighty baht.” jawabnya dengan suara sedikit keras. Sepertinya penjaga itu menjawab dengan bahasa inggris setelah mendengar aksenku bukan aksen Thai ketika menyebutkan Jomtien. Setelah bayar, aku diarahkan untuk pergi ke tempat dimana van terparkir berjejer.
Di depan salah satu van putih itu, ada supir yang berteriak “Pattaya.. Pattaya..” aku menghampiri supir itu dan menunjukkan secarik kertas tiketku yang bertuliskan kata Jomtien. Supir itu–sama seperti orang Thai lainnya–bertanya kepadaku satu kalimat penuh menggunakan bahasa Thai, sepertinya ia menanyakan dimana lokasi yang lebih spesifik di Jomtien. Kukira Jomtien hanya nama pantai, ternyata nama daerah di Pattaya. Tapi baiklah, aku tidak terlalu mengerti ocehan driver itu, padahal aku sudah memberikan sinyal tidak mengerti bahasa Thai. Aku lanjut masuk ke van itu dan disuruh untuk duduk paling belakang. Perjalanan memakan waktu dua jam—seperti jarak dari Jakarta ke Bandung.
Plot twist datang tanpa aba-aba. Di tengah perjalanan yang harusnya smooth, driver tiba-tiba ngerem dan menyuruhku turun. Ini bukan Pantai Jomtien yang kubayangkan—–pantai dengan pasir putih dan ombak yang menenangkan. Ini tengah kota yang car-centric, aspal panas, dan Google Maps masih nunjukkin 10 menit naik motor ke pantai yang kutuju.
“Wait, what? Bukannya aku pesan tiket ke pantai?” pikirku sambil ngecek tiket yang udah dibayar 180 baht tadi. Driver itu malah nunjuk-nunjuk ke arah songthaew–—basically angkot versi Thailand yang cat-nya udah pudar–—sambil ngomong bahasa Thai yang aku nggak ngerti sama sekali. This looks like a scam. Udah bayar full fare, kenapa harus bayar lagi? Tapi di sisi lain, aku cuma turis solo yang nggak punya bargaining power, stuck di tengah kota asing dengan backpack yang bikin aku keliatan kayak target empuk.
Jam tanganku menunjukkan pukul 9 pagi. Aku berdiri di trotoar, di bawah matahari yang tertutup awan, aku terlihat seperti gembel yang membawa tas batu. Aku mencari kafe terdekat—setidaknya aku bisa mencuci muka dan mengisi perut yang berbunyi sejak malam kemarin.

Pattaya Arc
Aku memutuskan untuk pergi ke hostel dengan Grab bike dengan biaya 38 baht—cukup murah kalau dibandingkan Grab bike di Bangkok. Di jalan raya pinggir pantai, ada banyak gang-gang yang isinya terlihat seperti rumah, rusun, dan warung. Hostelku berada di area ini, walaupun areanya tidak terlihat seperti touristy banget, area ini terasa lebih homey dibanding perkotaan yang isinya gedung-gedung tinggi dan hotel berbintang.

Tidak ada plan yang detail tentang apa yang aku ingin lakukan hari ini. Google Maps adalah aplikasi yang selalu menempel untuk mencari tempat menarik terdekat yang bisa dikunjungi, yang ternyata itu adalah pasar malam: Jomtien Night Market—night market yang benar-benar ada di pinggir pantai Jomtien, mempunyai vibe yang beachy. Memasuki night market ini, terdengar musik yang uplifting, dan terlihat turis mancanegara menjadi mayoritas–bahkan hampir semua–pengunjung di night market ini. Harga-harga di night market ini sebenarnya standar untuk orang Indonesia sepertiku, tapi untuk bule-bule kaya seperti mereka itu murah. Pad kra pao ayam 60 baht, donat 10 baht, dan ayam goreng 25 baht.
Ketika berada di night market, pastikan tangan tidak sering-sering membuka dompet, jika tidak, uang kertas di dalamnya akan cepat berpindah tangan ke tangan penjual. Ya, memang banyak yang menggiurkan di night market manapun, bahkan buaya pun juga lumrah dijual di night market Thailand. Aku menghabiskan 225 baht untuk membeli makanan berat, ringan, kue, dan magnet untuk oleh-oleh.


Hari kedua di Pattaya, planku adalah untuk mengunjungi Walking Street yang terkenal itu. Aku membuka Agoda untuk mencari hostel termurah yang berada di dekat Walking Street. Harganya hampir 400 baht, tapi tak masalah karena memang itu yang termurah. Aku memesan Grab bike untuk pergi ke hostel itu. Semakin dekat dengan walking street, semakin banyak restoran dengan berbagai macam cuisine. Banyak restoran halal, restoran india, italia, thai, diselingi dengan tempat pijat yang di depannya banyak ibu-ibu duduk menunggu pelanggan.
Google Maps menunjukkan aku sudah sampai di depan hostel. Tapi, dimana hostelnya? Aku hanya melihat hotel yang tidak terlihat seperti hostel murah yang aku pesan. Aku masuk ke hostelnya, resepsionis terlihat ramah dan bersiap untuk melayaniku. “Is this the correct hostel?” sambil menunjukkan handphoneku yang terpampang bukti pemesanan hostel. “It’s closed” Aku tidak yakin apa maksudnya. Apakah artinya hostel itu belum buka? “When will it open?” tanyaku untuk memastikan dan mendapatkan jawaban yang sama, “it’s closed” Jadi, hostel di Agoda ini scam? Kenapa tidak ditakedown oleh pemilik hostel atau Agoda? Padahal, pesanannya tertulis sudah confirmed. Aku kembali mengecek hostel itu di Agoda, dan ya, ternyata review terakhir diposting dua tahun yang lalu. Sial, tidak ada tombol refund. Aku buru-buru untuk chat customer service agoda, setelah beberapa menit, aku ditelpon oleh CS Agoda dan akhirnya refund akan diproses.
Karena sudah merasa relieved, aku mencari kafe untuk singgah sementara, untuk membuka laptop menyelesaikan beberapa task coding sekaligus mencari hostel baru. Dengan jarak sekitar 15 menit jalan kaki, aku bergegas ke Banlay Home Cafe yang menjadi salah satu cafe terbaik yang pernah aku kunjungi di Thailand, walaupun mahal, experience yang didapat sepadan dengan uang yang dikeluarkan.

Pattaya memang terkenal akan nightlifenya. Aku tidak menyarankan siapapun untuk pergi ke area red-lightnya Pattaya. Ini terlalu gila, aku tidak kuat bahkan untuk jalan kaki di salah satu jalan di Pattaya itu. Untuk sebagian besar orang yang datang ke Pattaya, ini memang menjadi daya tarik utama Pattaya. Rasanya seperti berjalan di atas jembatan shiratal mustaqim, salah langkah sedikit langsung terjerumus ke tempat yang tidak ada jalan keluarnya. Orang-orang berpesta, meminum minuman keras bersama perempuan yang dipilihnya — meski akupun kurang yakin itu benar-benar perempuan atau seorang ladyboy. Ladyboy di Thailand memang banyak yang 1:1 dengan perempuan asli, perlu kehati-hatian yang luar biasa. Sepuluh detik masuk ke jalan tersebut, hatiku dipenuhi ketakutan, takut akan salah langkah. Jalan cepat, tutup mata atau menunduk, lalu putar balik memang hal yang paling tepat untuk dilakukan. That was wild af not gonna lie.
Kembali ke Bangkok
Dalam rangka menutup perjalanan di Thailand ini, sekaligus kembali ke airport dimana aku akan terbang kembali ke Indonesia, aku kembali ke Bangkok. Untuk mencari tau cara kembali ke Bangkok, aku mengetik “Pattaya Bangkok” di Google Maps. Terdeteksi beberapa map pinpoint yang mengarahkanku ke travel agent yang menyediakan travel ke Bangkok menggunakan van. Berdasarkan reviewnya, tiap jam akan ada van yang berangkat ke Bangkok.
Ada satu hal yang membuatku bersemangat pergi ke Bangkok, yaitu adanya janji dengan Bang Kanji, seorang legend di dunia software engineering. Bang Kanji adalah panutan banyak orang di media sosial, meskipun ia prefer untuk stay anonymous. Ia terkenal dengan skill software engineeringnya yang jago, sampai bisa diterima di perusahaan raksasa yang ada di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Ia bersedia welcome aku di Bangkok, hanya untuk hangout dan buka laptop seharian (a peak way to hangout for software engineers). Kami pergi menggunakan MRT ke Chulalongkorn University Park bukan untuk menikmati taman yang hijau, tapi karena disana ada spot duduk yang perfect untuk ngoding.

ChaTraMue, tempat nongkrong yang direkomendasikan Bang Kanji yang menjual Thai Tea. Kami membahas banyak hal menarik, seperti pengalaman dia grinding yang membuat dia bisa sampai di titik ini, rekomendasi bacaan untuk improve skill, sampai memberikan challenge kepadaku problem-problem yang nggak wajar di dunia software engineering. Banyak ilmu baru yang kudapat dari meetup ini, membuatku merasa skillku belum ada apa-apanya. Sayangnya, kami harus berpisah karena aku harus kembali ke airport esok harinya.
Hari terakhir di Bangkok, aktivitas hari ini hanya satu: kembali ke airport. Tapi seperti biasa, nothing goes as planned dalam solo traveling. Aku bangun kesiangan—alarm tidak bunyi atau mungkin aku yang terlalu lelah setelah ngobrol sampai larut dengan Bang Kanji kemarin. Jam tanganku menunjukkan pukul 10 pagi, padahal flight aku jam 2 siang. Shit, ini berarti aku harus bergegas ke airport sekarang juga.
Check-out dari Wayha Hostel dengan terburu-buru, sambil berterima kasih kepada resepsionis yang ramah itu untuk terakhir kalinya. Tas backpack yang sudah jadi sahabat selama 10 hari ini kembali menempel di punggung, terasa lebih ringan karena sebagian barang sudah jadi oleh-oleh. Grab yang kupesan datang dengan mobil sedan putih—bukan MG EV kali ini, tapi Toyota Vios yang terlihat sudah berumur.
Driver kali ini lebih pendiam, hanya sesekali bertanya “first time Thailand?” dengan aksen khas. Aku mengangguk sambil melihat pemandangan Bangkok terakhir kali dari jendela mobil. Gedung-gedung tinggi, traffic yang padat, tuk-tuk yang berseliweran—semua ini akan jadi kenangan yang tersimpan rapi di memori.
“Thank you for the ride,” ucapku ketika sampai di terminal keberangkatan. Driver itu tersenyum lebar, “come back again to Thailand!” Entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa hangat di telinga. Ya, pasti akan kembali lagi kesini suatu hari nanti.
Wrapping up
Thailand never disappoints. Negara ini terlalu banyak spot yang dapat dikunjungi dan dinikmati. Satu kali visit sangat tidak cukup—Phuket, Chiang Mai, Koh Tao, Sakhon Nakhon—mungkin membutuhkan beberapa kali pergi kesini untuk benar-benar mendapatkan keseluruhan experience.
Pada perjalanan ini, banyak spot bengong sehingga memberikanku kesempatan berkontemplasi lebih banyak dibanding di kampung halaman. Mengapresiasi indahnya alam ciptaan tuhan, sekaligus berpikir tentang masa depan, yang membuatku menulis artikel You Live Only Once. Solo traveling akan selalu menjadi aktivitas rutin tahunan yang kurasa layak untuk mengeluarkan uang.
Total Budget Yang Dikeluarkan
Dengan rate 1 Thailand Baht = Rp522
| Day | Name | Cost (THB) | Cost (IDR) |
|---|---|---|---|
| 1 | PP Jakarta-Bangkok | Rp1,600,000 | |
| Grab to Hostel | ฿171.00 | ||
| Pad Kra Pao | ฿134.00 | ||
| Wayha Hostel | Rp164,728 | ||
| 2 | MRT Lak Si - Bang Sue | ฿20.00 | |
| Jajan Sevel | ฿26.00 | ||
| KFC | ฿70.00 | ||
| Sate Ayam | ฿80.00 | ||
| Topi | ฿200.00 | ||
| Duren | ฿100.00 | ||
| Sloth Hostel | Rp139,665 | ||
| 3 | Thai Roti | ฿25.00 | |
| Jajan sevel | ฿37.00 | ||
| Bangkok - Krabi Flight | ฿800.00 | ||
| Krabi Airport -> Hostel (Ao Nang Beach) | ฿150.00 | ||
| Ayam tusuk + nasi | ฿70.00 | ||
| Hostel | ฿140.00 | ||
| 4 | Nasi biryani ayam | ฿50.00 | |
| Tour 4 Island | ฿900.00 | ||
| Gym | ฿200.00 | ||
| Pad Thai Seafood | ฿100.00 | ||
| Hostel | ฿140.00 | ||
| 5 | Jajan sevel | ฿40.00 | |
| Laundry 1.6kg | ฿65.00 | ||
| Nasi Goreng | ฿50.00 | ||
| Thai Roti | ฿40.00 | ||
| Bus to Bangkok | ฿100.00 | ||
| Hostel | ฿140.00 | ||
| 6 | Nasi Goreng Ayam at the stop | ฿100.00 | |
| Jajan sevel (Tuna sandwich, air 600ml) | ฿70.00 | ||
| 7 | Grab Khok Wua - Ekkamai Terminal | ฿166.00 | |
| Bangkok (Ekkamai) - Pattaya (Jomtien) | ฿180.00 | ||
| Cappucino Cafe Amazon | ฿65.00 | ||
| Pad Kra Pao | ฿90.00 | ||
| Jomtien Night Market | ฿225.00 | ||
| Gym | ฿85.00 | ||
| Sleep Owl Hostel | ฿210.00 | ||
| 8 | Matcha | ฿130.00 | |
| Nasi Goreng Ayam | ฿50.00 | ||
| Grab to Pattaya Walking Street | ฿35.00 | ||
| Kebab Slice | ฿79.00 | ||
| Grab to Hostel | ฿28.00 | ||
| Freelancer Hotel | Rp96,670 | ||
| 9 | Thai tea | ฿60.00 | |
| Sandwich Breakfast | ฿20.00 | ||
| Pattaya to Bangkok van | ฿150.00 | ||
| Pad Kra Pao | ฿70.00 | ||
| Wayha Hostel | Rp187,810 | ||
| 10 | Tuna Sandwich | ฿75.00 | |
| Iced Latte Cafe Amazon | ฿70.00 | ||
| Nasi Ayam Airport | ฿150.00 | ||
| Oleh-oleh | ฿675.00 | ||
| Subtotal | ฿6,631.00 | Rp2,188,873 | |
| Total | Rp5,654,448 |